Jan 262014
 

Indonesia negeri sangat kaya. Kaya akan sumber daya alam. Dari Sabang hingga Merauke, dari darat sampai dasar laut, tersimpan harta yang begitu melimpah. Di situ pula terdapat tanah yang subur dan penuh kandungan mineral yang sangat melimpah. Hutan hujan tropis yang kaya biodiversitas, menyelimuti sebagian besar daratan di Indonesia. Lautan luas memeluk seluruh kepulauan, dan di situ mengandung ikan-ikan sehat dan kaya protein dalam jumlah yang luar biasa melimpah. Betapa luar biasa kekayaan alam Indonesia.

Titiek Soeharto

Kekayaan Indonesia tak hanya pada itu. Negeri kita juga melimpah akan budaya. Sebuah negara yang memiliki 17.508 pulau dengan 1.128 suku bangsa. Indonesia bukan hanya negara yang kaya akan penduduk dan sumber daya alam, tetapi juga sangat kaya akan budaya yang diwarisi dari para leluhur.

Suatu yang patut dibanggakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara terkaya akan budaya di dunia. Mulai dari tari dengan kecepatan gerakan tangan, Saman, di Aceh hingga lagu Apuse dari Papua yang sudah sangat tidak asing di telinga semua orang. Di satu provinsi saja sudah terdapat ratusan budaya, mulai dari bahasa, tarian, adat istiadat, lagu dan masih banyak lagi.

Itulah hal tentang luar biasanya negara Indonesia, yang diiyakan pula oleh Siti Hediati Hariyadi, putri keempat mantan Presiden Soeharto. “Karena itulah, sebenarnya setiap anak bangsa wajib menjaga dan melestarikan,” kata Titiek Soeharto, demikian ia biasa disapa.

Sebagai seorang putri dari ayah dan ibu yang sangat kental dengan budaya Jawa, pastinya Titiek pun mewarisi budaya asal orang tuanya. Tak ingin ia melihat budaya Jawa hilang. Gambaran masyarakat zaman sekarang yang cenderung lupa pada budaya nenek moyang, membuat Titiek sebenarnya merasa miris. Bagaimana atau apapun caranya, karena itu Titiek Soeharto selalu mencoba berbuat sesuatu untuk melestarikan budaya.

“Tetapi semua harus dengan kesadaran untuk melestarikan. Dan itu jauh lebih baik dimulai bukan dari yang terbesar, dalam arti negara, tetapi harus dimulai dari lembaga terkecil yaitu keluarga dan diri sendiri,” kata Titiek.

Titiek Soeharto

Ya, semua harus dimulai dari keluarga atau diri sendiri. Jika masyarakat masing-masing individu telah sadar melestarikan, pastinya itu akan punya efek besar terhadap budaya bangsa. Menurut Titiek, setiap masyarakat semestinya wajib mengetahui budaya asalnya masing-masing. Orang Jawa wajib tahu budaya Jawa. Orang Sumatra, Bali, Kalimantan, Papua, dan sebagainya, pun demikian. Tetapi juga akan sangat baik jika semua orang, masyarakat Indonesia, tahu tentang budaya dari masing-masing daerah di Indonesia.

Dalam Sekar Kedaton, perkumpulan ibu-ibu yang diikuti Titiek sebagai salah satu anggotanya, bahasa Jawa krama inggil selalu mewarnai kesetiapharian mereka berkumpul. Paguyuban ini memang dibuat dengan niat melestarikan budaya Jawa, seperti bahasa dan tulisan Jawa, di samping juga melakukan aksi-aksi sosial.

“Sekar Kedaton itu kumpulan ibu-ibu yang kalau kumpul semua harus pakai bahasa Jawa dan krama inggil. Bahasa Jawa ngoko tidak boleh. Jadi maklum saja, ibu-ibu di Jakarta diminta berbahasa krama inggil kan susah, jadi kadang-kadang belepotan bahasanya. Sampai-sampai kita sering ketawa-ketawa, tapi saling mengoreksi juga,” cerita Titiek, seraya tertawa kecil.

Budaya adalah salah satu hal yang juga banyak didapat atau diketahuinya dari sang ayah, mantan Presiden Soeharto. Ia mengaku banyak belajar dari sikap pak Harto, pitutur yang disampaikannya, juga pebuatan-perbuatan Pak Harto yang baik terutama pada waktu selama memimpin negara ini.

titiek-memanah2b“Banyak sekali pelajaran yang kami dapat dari bapak. Apa yang beliau lakukan, apa yang beliau katakan, itu semua bisa menjadi pelajaran bagi kami putra putrinya,” kata Titiek.

Ditambahkannya, ia dan saudara-saudaranya pernah membukukan butir-butir budaya Jawa yang ditulis Pak Harto selama hidup. Filosofi-filosofi nenek moyang Jawa dikumpulkan dan ditulis oleh Pak Harto. Selain dikumpulkan dan ditulis, semua pitutur itu pun tentu disampaikan Pak Harto kepada anak-anaknya.

“Seperti pitutur ‘ojo dumeh’, ‘aja kagetan’, dan sebagainya. Pitutur-pitutur itu, beliau terapkan sendiri dan disampaikan sebagai pegangan buat anak-anak dan siapa saja yang mau belajar. Semua itu lalu kita bukukan dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa, dan huruf hanacaraka-nya juga ada itu,” sambung Titiek.

Ya, baginya Pak Harto meninggalkan begitu banyak ajaran dan kenangan. Selain budaya yang didapat dari Pak Harto, Titiek juga mendapat bemacam pelajaran, seperti jiwa sosial seorang pemimpin. Sebagaimana presiden pertama kita, Ir. Soekarno, pada zamannya, Pak Harto juga telah memberikan nilai-nilai tersendiri pada bangsa ini.

Pak Karno telah berani memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini, sedangkan Pak Harto dengan komitmen sebagai presiden 24 jam setiap hari, selalu memikirkan bagaimana menyejahterakan rakyat Indonesia. “Itu beliau tunjukkan dengan perkataan dan perbuatan,” sambungnya lagi.

Apa yang dilakukan Pak Harto untuk bangsa, satu di antaranya adalah membuat yayasan-yayasan. Sampai sekarang, masih banyak yayasan tinggalan pak Harto yang dikelola dengan baik dan bermanfaat bagi rakyat. “Seperti Yayasan Supersemar, di mana sudah lebih dari 2 juta sarjana yang mendapatkan beasiswa dari situ. Lalu rumah sakit kanker Yayasan Dharmais, yayasan Jantung Harapan Kita, lalu juga TMII. Nyatanya sampai sekarang semua itu berguna bagi masyarakat. Ada 7 yayasan dan semua bergerak di bidang sosial,” ujar Titiek.

Memperhatikan rakyat untuk kesejahteraan sosialnya adalah satu pelajaran yang didapat Titiek dari sang ayah. Karena itu, sampai sekarang Titiek juga memiliki segudang kegiatan sosial sekaligus budaya, bersama paguyuban-paguyuban yang dibentuk juga yang diikutinya.

“Tahun ini saya menggantikan Bu Miranda jadi ketua Yayasan Seni Rupa Indonesia. Yayasan ini bertujuan untuk memperhatikan seniman-seniman yang talented, yang waktu dulu belum begitu banyak diperhatikan. Bermacam kegiatan kita lakukan di situ, dan kita juga memberi beasiswa seniman pelukis yang kurang mampu untuk sekolah lagi,” ujar Titiek yang juga sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Panahan Indonesia ini.

Itu salah satunya. Di bidang sosial, Titiek memang banyak berbuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat bersama teman-temannya yang lain di dalam kelompok atau paguyuban-paguyuban sosialnya. Pun demikian di bidang budaya.

Sebagai orang Jawa, menurut Titiek, pada akhirnya tentu ia ingin melestarian budaya warisan nenek moyang agar tak punah, dengan cara nguri-uri, meskipun dilakukan dari hal-hal kecil dan kegiatan-kegiatan kecil. Ia juga mengedepankan sifat-sifat orang Jawa yang suka menolong, membatu dan memperhatikan sesama. Itulah sedikit pelajaran hidup orang Jawa yang didapatnya dari sang ayah. Dan sampai kini, Titiek pun berusaha mewarisi sikap dan perbuatan yang baik itu.

Sumber: Majalah KABARE edisi Januari 2013

Download Artikel format PDF

Download Artikel format JPG

Titiek Soeharto

Siti Hediati Soeharto SE, putri Presiden RI kedua HM Soeharto, Ketua Bidang Tani dan Nelayan DPP Partai Golkar, Ketua Umum Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI), Ketua Umum Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI), Pembina Yayasan Supersemar, Pembina Yayasan Purna Bhakti Pertiwi. Follow Titiek Soeharto on : Facebook, Google+, Twitter, linkedin

  8 Responses to “Siti Hediati Hariyadi Lestarikan Jawa Meski dari Hal Kecil”

  1. Assalamualaikum ibu siti
    Saya dari mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Sumatera Utara. Semoga ibunda sehat selalu.

  2. Semoga ibu selalu sehat dan sukses. Salam sukses dari saya, mahasiswi FEB univ. Airlangga Surabaya

  3. Assalamu’alaikum, Ibu…

    Senang sekali melihat foto saya saat memandu Ibu dalam olah jemparingan atau panahan tradisional gaya Mataraman muncul di sini…

    Semoga sehat selalu, Ibu… Maturnuwun..

  4. KEKUATAN TRISAKSI, DEMOKRASI EKONOMI PANCASILA DAN TRIBUDOYO SOEHARTO.

    3 kekuatan besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yaitu, kekuatan politik, kekuatan ekonomi dan kekuatan budaya dimana oleh Presiden RI pertama menyebutnya TRISAKTI dan oleh Prof DR Soemitro, SE, MBA menyebutnya dalam buku terbitan Koperasi Pegawai Negeri sebagai DEMOKRASI EKONOMI PANCASILA sehingga budaya Jawa sebagai salah satu suku bangsa yang tua di Indonesia di nyatakan dalam buku Soeharto Persiden RI kedua sebagai pelaksanaan budaya Rasa, Karsa dan Karya sehingga 3 kekuatan ajaran Jawa ini pula menjadi kekuatan yang ampuh dalam perpaduan ilmu TRISAKSI dalam pencapaian bangsa Indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan sejahtera.
    Semoga catatan ini menjadi pengingat menyegarkan kembali ilmu-ilmu pada satu masa lampau yang terlewati untuk menjadi pelaksnanaan tahapan peralihan pembangunan selanjutnya dan semoga bermanfaat. Assalamu Alaikum Wr. Wb.

  5. Ass wr/wb ibu titiek…
    Tgl 9 juli adalah pilpres indonesia….
    Saya mendukung penuh pak prabowo bukan sebagai pemenang di pilpres tp saya jg mndukung agar ibu dan pak prabowo bersama kembali untuk indonesia.. jika ibu jdi ibu negara kami, kami akan sangat bangga memiliki ibu negara yg cantik, cerdas dan rendah hati…indonesia akan lebih baik jika pak prabowo presiden dan ibu sebagai ibu negara kami….

  6. Maturnuwun ibu, dgn berbagai artikel ini sangat bermanfaat bagi kami generasi
    selanjutnya..semoga ibu diberi kesehatan selalu dalam perlindungan Allah demikian juga
    dengan pak Prabowo semoga sesuai rencana yg dikehendaki Allah menjadi Presiden
    pemimpin kita selanjutnya dalam memerangi kemiskinan dan ketidak adilan.
    salam dari kami sekeluarga, semoga ibu juga segera bisa mendampingi p.Prabowo dalam mengemban tugas menjalankan amanah suci dari Allah, menggembala bangsa indonesia untuk keluar dari keterpurukan..aamiin.

  7. Semoga Mba Titiek tetap istiqomah tetap berada #DijalanKEBUDAYAAN . . .

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)