Jan 112014
 

Pangan merupakan kebutuhan kita semua. Pemenuhan kebutuhan pangan merupakan tantangan ummat manusia, baik skala individu, negara, maupun bangsa. Seiring meningkatnya populasi manusia, kebutuhan pangan terus meningkat, bertarung dengan sempitnya lahan, akibat kompetisi spasial antara penyediaan lahan untuk pangan dengan pemenuhan lahan untuk pemukiman maupun aktivitas ekonomi lainnya.

Kedaulatan pangan merupakan kebutuhan strategis suatu bangsa, karena penyediaan pangan bisa menjadi sumber konflik atau bahkan menjadi instrumen pengendalian suatu bangsa atas bangsa lain. Ketergantungan pangan terhadap bangsa lain, bisa menyebabkan posisi tawar negara atau bangsa itu menjadi lemah. Indonesia diberi anugerah berupa ketersediaan lahan pertanian yang luas, pengalaman sebagai masyarakat agraris yang berlangsung lama, memiliki banyak varian bahan pangan (walaupun beras tetap menjadi komoditas dominan), maupun ketersediaan kelembagaan, termasuk kelembagaan riset pertanian. Bahkan pada tahun 1984 kita sudah mencapai swasembada beras, yang sebelumnya juga mengalami ketergantungan akut terhadap beras luar negeri. Dengan segenap potensi itu, sudah seharusnya Indonesia berdaulat dalam hal pangan.

Ujung rantai utama pemenuhan kedaulatan pangan ada pada para petani. Perlakuan kita kepada petani tidak seharusnya semata-mata keprihatinan karena kebanyakan petani berada dalam ‘zona hidup berat’ akibat tekanan musim yang tidak bersahabat, luasan lahan yang kurang memadai, pasokan air untuk tanam tidak stabil, semakin membengkaknya biaya produksi, serta tekanan gejolak harga yang tidak bersahabat waktu panen. Lebih dari itu, penyikapan dan dukungan kepada petani harus dipahami sebagai bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan kita sendiri, khususnya dalam menciptakan stabilitas pangan. Kita harus menempatkan problem petani sebagai problem kita bersama.

Dukungan kepada petani tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan bibit, ataupun edukasi cara bertani yang baik. Dukungan kepada petani harus berupa paket kebijakan nasional yang berpihak, berupa sistem penyediaan bibit yang baik, sistem edukasi pertanian yang baik, penyediaan sarana dan prasana produksi dengan harga terjangkau, stabilitas ketersediaan air dengan sistem irigasi yang baik, perlindungan petani dari gejolak harga, dan perlindungan ketersediaan lahan. Ketika secara ekonomi menguntungkan, usaha pertanian akan diminati sebagai usaha yang menggairahkan, dan secara makro nasional upaya mewujudkan kedaulatan pangan dengan sendirinya akan terdorong

Ilmu pertanian memang telah berkembang begitu pesat dan bahkan telah terspesifikasi kedalam berbagai disiplin. Namun tanpa penjiwaan secara langsung terhadap pergulatan hidup petani, sebuah kebijakan pertanian hanya akan menjadi menara gading dan kadang tidak base on reality (sesuai realitas kebutuhan prioritas) dengan problematika yang dihadapi petani. Perpaduan antara kemajuan disiplin ilmu pertanian dan pemetaan serta penjiwaan yang sungguh-sungguh terhadap persoalan petani akan menjadi kombinasi kebijakan yang efektif dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Sebagai Ketua Tani dan Nelayan DPP Golkar, selain berusaha mempertemukan para inovator dengan petani, saya juga berusaha menghampirinya. Agar bisa meresapi dan menjiwai problem-problem yang dihadapi petani, untuk nantinya ikut partisipasi mencarikan jalan keluar.

Hal terpenting adalah perlunya kesadaran kita semua, bahwa petani merupakan ujung tombak terwujudnya kedaulatan pangan. Problem petani merupakan problem kita bersama. Perlindungan petani juga berarti perlindungan terhadap kita semua. Komitmen kebijakan dalam bentuk ketersediaan kebijakan secara utuh dan berkelanjutan dalam melindungi petani dan usaha pertanian merupakan kebutuhan bersama.

***

Titiek Soeharto

Siti Hediati Soeharto SE, putri Presiden RI kedua HM Soeharto, Ketua Bidang Tani dan Nelayan DPP Partai Golkar, Ketua Umum Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI), Ketua Umum Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI), Pembina Yayasan Supersemar, Pembina Yayasan Purna Bhakti Pertiwi. Follow Titiek Soeharto on : Facebook, Google+, Twitter, linkedin

  2 Responses to “Petani Ujung Tombak Kedaulatan Pangan”

  1. Sangat setuju Bu. Tanpa keberpihakan dan intervensi negara terhadap petani hampir mustahil kita mampu mewujudkan daulat pangan yang dalam pemahaman saya dkk harus dilandasi oleh kondisi swasembada dan ketahanan pangan. Yang cukup menggembirakan kami saat ini adalah keterlibatan dan komitmen TNI untuk mewujudkan Daulat Pangan, dan penegasan mereka bahwa Pangan merupakan Alutsista Non-Fisik.

    Salam hormat dan tetap semangat Bu

  2. Ayo wujudkan lagi swasembada yang pernah dicapai dulu.

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)