Jan 162014
 

Saya suka batik, mahakarya bangsa kita, berbasis kreativitas masyarakat. Tidak jarang saya mencari ke pusat-pusat kerajinan batik, bahkan ke pasar-pasar. Beberapa waktu lalu saya pergi ke pasar Sleman. Saya menikmati betul bercengkerama dengan ibu-ibu pedagang pasar. Sebuah dinamika ekonomi, melibatkan jumlah masal orang, dengan nuansa keleluargaan masih tetap terpelihara. Ada aspek ekonomi, namun juga unsur kekeluargaan yang menandakan kuatnya kohesivitas (kerekatan) sosial dalam masyarakat kita.

Pasar tradisional bukan saja pusat transaksi ekonomi bagi masyarakat, namun juga merupakan salah satu tangga tranformasi sosial-ekonomi yang terbuka bagi jutaan orang. Ada produsen, penghasil kebutuhan pangan, penyedia jasa, dan pedagang skala kecil yang melibatkan jutaan orang. Keuntungannya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, akan tetapi juga membiayai pendidikan anak-anaknya, untuk kelak bisa meraih altar kehidupan yang lebih baik, termasuk partisipasi secara lebih berkualitas dalam membangun dan memajukan bangsa. Bagi banyak orang, pasar merupakan salah satu tangga dalam meraih pencapaian kehidupan yang lebih baik, yang keberadaanya terbuka bagi siapa saja, tanpa mempersyaratkan standar kompetensi tertentu untuk meraih akses kemajuan ekonomi, hanya perlu ketekunan dan kesungguhan.

Pasar tradisional kini berkompetisi secara ketat dengan kehadiran pasar-pasar modern. Ada suatu image, pasar tradisional kurang memperhatikan aspek kebersihan, standar produk maupun kenyamanan belanja. Melalui berbagai pendekatan dan kemajuan pengetahuan maupun strategi pembangunan yang berkembang selama ini, keduanya bisa dikelola seiring sejalan tanpa saling mematikan. Tinggal sebarapa kuat komitmen melindungi kemajuan keduanya dapat dirumuskan melalui kebijakan yang tepat.

Selain pasar, kita juga memiliki khasanah kuliner lokal yang tersebar di hampir semua tempat di Indonesia, seperti warteg, pujasera dan warung-warung kopi yang juga berkompetisi dengan dinamisnya perkembangan kuliner skala korporasi. Keberadaanya juga harus dilindungi, bukan saja melibatkan banyak pelaku ekonomi skala kecil, namun lidah kita juga tidak bisa meninggalkan lezatnya rendang, sate madura, soto, teh poci, nasi kucing, gudeg, dan lain-lain. Sebuah potensi ekonomi kuliner yang keberadaanya bisa menjadi generator dinamika perekonomian masyarakat kita, karena basis pasarnya amat luas.

Fasilitas pendukung seperti counter yang menarik, kebersihan, dan kenyamanan penyajian makanan di warung-warung, pujasera dan warkop memang masih tertinggal dari kuliner skala korporasi, walaupun dari aspek kelezatan, kuliner kita tidak kalah. Kuliner skala korporasi juga gencar menawarkan daya tarik bagi para penikmat kuliner, seperti ketersediaan WIFI gratis, sehingga pengunjung berkantong tebal berlama-lama menikmati makanan, bahkan sambil menjalankan pekerjaannya. Jika pusat-pusat konsentrasi penjualan makanan dan warung-warung kopi kita diberi dukungan fasilitas seperti itu, tentu masyarakat kita dari berbagai strata juga akan berlama-lama menikmati kuliner lokal kita. Walaupun pengusaha kuliner lokal kita sudah banyak mengadopsi manajemen kuliner modern, namun masih banyak pelaku usaha kuliner kita yang memerlukan dukungan.

***

Titiek Soeharto

Siti Hediati Soeharto SE, putri Presiden RI kedua HM Soeharto, Ketua Bidang Tani dan Nelayan DPP Partai Golkar, Ketua Umum Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI), Ketua Umum Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI), Pembina Yayasan Supersemar, Pembina Yayasan Purna Bhakti Pertiwi. Follow Titiek Soeharto on : Facebook, Google+, Twitter, linkedin

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)