Dec 192013
 

Pada tanggal 8 November 2013 dalam rangkaian acara peringatan Hari Pahlawan 2013, saya diminta menjadi salah satu pembicara dalam diskusi dan bedah buku Pak Harto: The Untold Stories di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Dalam buku itu saya katakan Pak Harto tidak bisa hadir ketika saya diwisuda sebagai sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia. Sebagai putrinya, kehadirannya kala itu sesuatu yang sangat saya harapkan. Ketidakhadirannya untuk suatu agenda kenegaraan yang sudah dijadwalkan membuat saya merasa sedih, untuk sekedar hadir dalam satu momen, yang hanya sekali dalam hidup saya. Sebagai putri presiden, saya juga sebagaimana anak-anak masyarakat kebanyakan, harus berjuang bisa masuk universitas dan berjuang menyelesaikan studi.

Peristiwa itu membuat saya menjadi tersadar akan makna tanggung jawab sebagai seorang pemimpin bangsa. Segenap waktu, tenaga dan pikirannya harus dicurahkan untuk sepenuhnya memastikan tercapainya tujuan berbangsa dan bernegara, yang antara lain: melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut serta mewujudkan ketertiban dunia sebagaimana amanat UUD 1945. Keluarga, termasuk putrinya seperti saya, harus menyadari dan memberi support sepenuhnya akan tanggung jawab itu, atau setidaknya tidak mengganggu kelancaran tugas-tugas itu. Urusan keluarga, untuk sementara harus ditempatkan sebagai prioritas kedua.

Ikatan bathin saya dengan bapak saya, Pak Harto pada akhirnya memahamkan, menyadarkan, dan menumbuhkan spirit pada diri saya, akan makna kepemimpinan, baik kepemimpinan bangsa maupun kepemimpinan di level manapun. Bahwa kepemimpinan bukanlah sekedar berkuasa atau menggenggam alat-alat kekuasaan, untuk sekehendak hati memanfaatkan kekuasaan itu demi kepentingan pribadi, keluarga, maupun kelompok. Pemimpin harus mampu menyejiwa dengan suara bathin masyarakat — penyejiwaan yang sesungguhnya dan bukan penyejiwaan yang dicitrakan—, bersama-sama mengurai keresahan bathin itu, untuk terwujudnya kesejahteraan bersama sesuai cita-cita bangsa dan negara. Indonesia merupakan sebuah keluarga besar, yang dibalut oleh cita-cita besar, yang diletakkan di atas idiologi skala mendunia, Pancasila. Maka, apapun penilaian orang, yang saya saksikan dan rasakan sebagi Putri Pak Harto, adalah hari-hari dimana tiada hari tanpa pertempuran mewujudkan cita-cita besar bangsa kita itu. Tiada perasaan sebagai orang berkuasa, namun sebagai bagian dari keluarga sebuah bangsa besar, bangsa Indonesia, yang diberi amanat besar untuk memimpin mewujudkan cita-cita yang besar pula.

Belajar dari spirit kepemimpinan Pak Harto, maka kebersamaan dalam kerja-kerja kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan kemasyarakatan untuk terwujudnya kesejahteraan bersama, yang diliputi keadilan berdasarkan Pancasila, merupakan hal penting daripada sekedar berebut jabatan atau kekuasaan. Kekuasaan hanya merupakan salah satu instrumen untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa kita dan oleh karenanya amanat kekuasaan harus bisa ditempatkan dan dikelola secara tepat. Adakalanya kekuasaan dan jabatan hadir tanpa harus di rebut, walaupun bukan berarti tanpa harus diperjuangkan. Tapi ujungnya adalah bagaimana mengelola kekuasaan itu sesuai dengan amanat hati rakyat dan cita-cita besar perjuangan bangsa kita.

Tidak kalah penting adalah menumbuhkan semangat kerja keras, kegotongroyongan dan kebersamaan bagi segenap elemen bangsa untuk secara bersama-sama berkontribusi mewujudkan cita-cita besar bangsa kita sebagaimana amanat UUD 1945. Sebuah kerja keras, semangat kegotongroyongan dan kebersamaan yang sejalan dengan suara bathin segenap masyarakat dalam kerangka Pancasila. Bangsa kita tidak akan pernah menjadi bangsa besar, ketika terus terjebak dalam sikap pembebek dan pengamuk. Juga tidak pernah menjadi bangsa besar ketika tidak mampu memahami dan meresapi esensi sebuah kepemimpinan yang sejalan dengan desah bathin masyarakat dalam skala bangsa.

***

Titiek Soeharto

Siti Hediati Soeharto SE, putri Presiden RI kedua HM Soeharto, Ketua Bidang Tani dan Nelayan DPP Partai Golkar, Ketua Umum Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI), Ketua Umum Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI), Pembina Yayasan Supersemar, Pembina Yayasan Purna Bhakti Pertiwi. Follow Titiek Soeharto on : Facebook, Google+, Twitter, linkedin

  One Response to “Kepemimpinan Bukan Sekedar Berkuasa”

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)