Oct 252013
 

Kita harus panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, pada tahun 2013 ini Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) berhasil mempertahankan, melanjutkan, dan menaikkan mutu agenda dua tahunan dalam penyelenggaraan kompetisi seni rupa. Kompetisi ini merupakan ajang menggali, membina dan meningkatkan kualitas seniman-seniman terbaik Indonesia, agar bisa dirasakan dan diapresiasi kehadiran karyanya oleh publik luas, baik dalam kancah nasional, regional maupun internasional. Apalagi tahun ini merupakan babak baru dalam penggunaan metode seleksi dengan persyaratan lebih berat jika dibandingkan dengan persyaratan pada waktu-waktu yang lalu, dengan keharusan menyerahkan dasar pemikiran sebuah karya dan kompetisi berjenjang. Sebagai upaya meningkatkan level sebuah karya dan para senirupawan Indonesia agar semakin berbobot.

YSRI berdiri tahun 1994 dan kehadirannya telah menjadi inspirasi, termasuk dalam metode penjurian, bagi penyelenggaraan kompetisi serupa di negara-negara lain, baik dalam kancah regional maupun internasional. Metode penyerahan foto sebuah karya yang diterapkan YSRI, di terapkan pula di negara-negara lain. Kini metode penjurian itu oleh tim juri yang di ketuai Pak Jim Supangkat ditingkatkan dengan menggunakan metode semiotik, yang disebut sebagian kalangan sebagai lompatan metode. Sebuah karya seni, bukan hanya harus bernilai seni, akan tetapi juga harus punya makna atau pesan moral yang dalam dan memiliki magnitude. Metode penjurian juga berjenjang dengan kategori Utama (seniman yang berkarya secara terus menerus selama minimal 15 tahun), kategori Madya (yang berkarya minimal selama 10 tahun) dan kategori Muda Berbakat (yang berkarya minimal 5 tahun).

Pada tahun 1994, kompetisi ini diselenggarakan bekerjasama dengan Philip Morris Group of Companies sehingga pada waktu itu kompetisi ini dinamai Philip Morris Group of Companies Indonesia Art Awards. Pada tahun 1995, YSRI memperlebar jangkauan kegiatannya dengan mengajak sekretariat ASEAN (Assosiation of South East Asian Nations) di Jakarta untuk menyelenggarakan Philip Morris Group of Companies ASEAN Art Awards sebagai kompetisi tingkat Asia Tenggara. Kompetisi seni rupa ini berlangsung hingga tahun 2001 dan pada tahun Philip Morris Group of Companies memutuskan menghentikan dukungannya dalam penyelengaraan kompetisi seni rupa, baik tingkat nasional maupun tingkat Asia Tenggara.

YSRI berusaha mempertahankan dan meneruskan kompetisi dan sejak tahun 2003 diberi nama Indonesia Art Awards (IAA). Kompetisi ini berlangsung tanpa putus. Tahun 2013, PT Gudang Garam Tbk. bersedia mendukung YSRI dalam penyelenggaraan kompetisi dan kita beri nama Gudang Garam Indonesia Art Awards (GGIAA).

Sebagai ketua YSRI, kompetisi ini bukan saja dimaksudkan sebagai media untuk menggali dan mengembangkan bakat senirupawan Indonesia, agar bisa berkiprah lebih kuat dalam kancah nasional, regional maupun internasional. Lebih luas dari itu, kompetisi ini diharapkan bisa menjadi pendorong dan inspirasi bagi semua masyarakat Indonesia untuk giat berkarya dalam level prestasi yang bisa dibanggakan, baik skala nasional, regional maupun internasional. Kita harus dorong bangsa kita ke dalam atmosphere “politik karya” dengan giat berkarya, melahirkan karya-karya yang berbobot dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, dalam bidang apapun.

Hanya dengan budaya berkarya secara bertanggung jawab, pada level prestasi yang bisa dibanggakan, dan memiliki kemanfaatan yang tinggi, kebesaran dan kejayaan bangsa kita akan dapat kita raih kembali, dan tidak hanya menjadi halaman belakang dari percaturan karya bangsa-bangsa lain. Sebagai sebuah bangsa, kita harus mendorong diri kita untuk keluar dari perilaku-perilaku yang tidak produktif dan mengalokasikan semua kekuatan bangsa untuk gairah berkarya demi kebaikan bersama. Semoga yang dilakukan YSRI menjalar sebagai inspirasi positif bagi kehidupan bangsa kita.

***

Titiek Soeharto

Siti Hediati Soeharto SE, putri Presiden RI kedua HM Soeharto, Ketua Bidang Tani dan Nelayan DPP Partai Golkar, Ketua Umum Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI), Ketua Umum Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI), Pembina Yayasan Supersemar, Pembina Yayasan Purna Bhakti Pertiwi. Follow Titiek Soeharto on : Facebook, Google+, Twitter, linkedin

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)