Dec 312013
 

Tanggal 15 Desember 2013 yang lalu, usai menghadiri undangan pelantikan Bupati Karanganyar, saya berziarah ke makam Bapak dan Ibu saya (Pak Harto dan Ibu Tien), di Astana Giri Bangun. Pada hari itu bertepatan pula dengan para guru dan dosen sejarah yang tergabung dalam Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) Yogyakarta pimpinan Ibu Rina, berziarah ke Astana Giri Bangun. Kehadirannya tentu saja saya sambut gembira dan sebisa mungkin saya berikan sambutan untuk memberikan penghormatan sebisanya. Kira-kira ada 250 guru sejarah dan 15 dosen sejarah serta beberapa dari elemen masyarakat yang lain.

Apresiasi saya, lebih kepada peran besar guru dan dosen sejarah dalam menjaga dan mentransformasikan spirit perjuangan bangsa. Bahwa guru sejarah bukan saja mengajarkan peristiwa-peristiwa kesejarahan, akan tetapi juga mengajarkan spirit di balik peristiwa kesejarahan itu dalam kaitannya perjalanan panjang bangsa ini membangun peradaban. Spirit yang harus terus tertanam pada setiap generasi baru bangsa ini.

Kabarnya ada doktrin yang menyatakan “jika hendak membunuh tanaman, maka racunlah akarnya dan jika hendak membunuh bangsa, maka racunlah sejarahnya”. Ada juga yang menyatakan bahwa penulisan sejarah lebih didominasi corak pemikiran siapa yang berkuasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Kita perlu melihatnya dalam spektrum lebih luas, bahwa dalam kompetesi geopolitik global, tidak jarang kemegahan sejarah suatu bangsa itu sengaja dirontohkan untuk memuluskan dominasi bangsa-bangsa tertentu atas bangsa lain. Pahlawan-pahlawan kita seperti Diponegoro, Patimura, Teuku Umar, Cut Nya’ Dien, dan lain-lain, bisa saja dianggap atau dikesankan sebagai figur biasa atau bahkan dulu oleh penjajah dianggap sebagai pecundang. Cara pandang itu berbeda ketika kita melihatnya dari sudut kepentingan perjuangan bangsa kita, karena mereka adalah pejuang, yang secara gigih mempertahankan harkat dan martabat bangsanya.

Bangsa Nusantara sudah ada sejak ribuan tahun, eksistensinya jatuh bangun, yang tidak jarang dilatari oleh persitegangan geopolitik antar kawasan. Nusantara merupakan kawasan strategis dan karena itu selalu menjadi titik temu kepentingan yang memicu pergolakan. Dokumentasi kesejarahan juga membuktikan bahwa selalu hadir pejuang-pejuang Nusantara yang secara gigih menegakkan kembali eksistensi peradaban bangsanya. Di sini guru sejarah memiliki peran strategis dalam mentransformasikan spirit pembangunan peradaban bangsa, agar eksistensi bangsa ini tidak menjadi halaman belakang dalam percaturan antar bangsa. Peran guru sejarah tentu tidak kalah strategis dengan peran elemen-elemen bangsa yang lain.

Tentu saya senang dan bergairan bertemu para guru dan dosen sejarah ini, tiada lain untuk menemani peran kesejarahan yang sedang dijalaninya. Sebuah peran kesejarahan sebagai penyemai spirit nilai-nilai kejuangan bangsa. Agar para generasi bangsa ini, tetap tampil sebagai generasi dengan mentalitas sebagai bangsa besar. Bukan saja karena luasan wilayah dan jumlah penduduknya, tapi bangsa yang memiliki kesejajaran untuk duduk dan berdiri secara berwibawa, dalam percaturan antar bangsa, dengan segala kemegahan sejarah masa lalunya dan kecemerlangan masa kini maupun masa depannya.

Secara khusus saya ingin menyampaikan terima kasih kepada para guru dan dosen sejarah ini atas kehadirannya di Astana Giri Bangun. Semoga semakin tangguh menjalani peranannya sebagai penjaga spirit perjuangan bangsa.

***

Titiek Soeharto

Siti Hediati Soeharto SE, putri Presiden RI kedua HM Soeharto, Ketua Bidang Tani dan Nelayan DPP Partai Golkar, Ketua Umum Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI), Ketua Umum Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI), Pembina Yayasan Supersemar, Pembina Yayasan Purna Bhakti Pertiwi. Follow Titiek Soeharto on : Facebook, Google+, Twitter, linkedin

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)