May 152017
 

BANTUL — Usaha pembudidayaan benih ikan lele dinilai lebih menguntungkan dibanding usaha budidaya pembesaran ikan lele konsumsi. Selain memakan waktu produksi yang sama, serta tak membutuhkan banyak tempat, secara hitungan-hitungan pendapatan usaha pembenihan ikan lele juga lebih besar dibanding pembesaran ikan lele konsumsi.

Wahyudi (kiri) mendampingi Titiek Soeharto.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), Mina Kanten, Dusun Kebonagung, Imogiri, Bantul, Wahyudi, saat menerima kunjungan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, SE, atau akrab disapa Titiek Soeharto, belum lama ini. Namun, meski dinilai lebih menguntungkan, usaha pembibitan ikan lele dinilai lebih sulit karena harus melakukan proses pemisahan indukan dengan risiko kegagalan cukup tinggi.

Mendirikan kelompok usaha pembibitan ikan lele sejak 2016 silam, Pokdakan Mina Kanten, memiliki sebanyak 11 anggota yang mayoritas pemuda. Demi memajukan usaha bersama, para anggota yang sudah sejak lama menggeluti usaha pembibitan ikan lele secara personal di lahan masing-masing itu, akhirnya memutuskan menggabungkan diri dalam satu kelompok.

Titiek Soeharto mencermati budidaya pembenihan atau pembibitan ikan lele.

Dengan minimal memiliki 4 kolam pembibitan untuk setiap anggota, serta kolam kelompok bersama, Pokdakan Mina Kanten mampu menghasilkan sekitar 50 ribu bibit ikan lele setiap bulan. Dengan modal sekitar Rp400 ribu, mereka bisa menghasilkan pendapatan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Yakni dengan menjual bibit ikan lele ukuran 3-4 cm dan 3-5 cm.

“Kita sudah bisa memisahkan sendiri dari indukan. Untuk penjualan langsung diambil oleh bakul. Ada yang menjual telur larvanya saja, ada juga yang menjual bibit. Untuk ukuran 3-4 cm biasa dijual Rp70 per biji. Sedangkan untuk ukuran 3-5 cm dijual Rp80 per biji,” tuturnya.

Salah satu kunci pembudidayaan pembibitan ikan lele, menurut Wahyudi, adalah pemberian pakan alami berupa cacing sutra. Dengan pemberikan pakan cacing sutra, persentase keberhasilan bisa mencapai 80 persen. Sementara tanpa pemberikan pakan alami, persentase keberhasilan pembibitan hanya mencapai 50 persen.

Titiek Soeharto berdialog dengan pembudidaya ikan lele.

“Sayangnya untuk pakan alami kita belum bisa produksi sendiri. Masih harus membeli ke penjual. Padahal saat musim tertentu, untuk mendapatkan cacing agak sulit sehingga turut mengganggu produksi,” katanya.

Selain pakan alami, kunci pembibitan ikan lele juga sangat terkait dengan penanganan cuaca dan hama penyakit berupa jamur. Untuk mengatasi dampak cuaca, Pokdakan Mina Kanten sendiri memanfaatkan semacam paranet untuk mengurangi air kolam. Sementara untuk mengatasi hama jamur mereka masih mengandalkan obat alami berupa daun-daunan.

Titiek Soeharto yang datang meninjau pembibitan ikan lele Pokdakan Mina Kanten sebagai salah satu potensi Desa Kebon Agung, mengaku sangat mendukung usaha tersebut. Menurut Titiek, usaha pembibitan ikan lele memiliki posisi strategis sebagai penyuplai bibit budidaya pembesaran ikan lele. Selain tak semua orang bisa melakukan, pembibitan juga dinilai lebih menguntungkan.

Titiek Soeharto saat meninjau Pokdakan Mina Kinten.

“Usaha pembibitan ikan lele ini harus terus dikembangkan. Yakni dengan fokus pada jenis budidaya pembibitan itu saja. Karena tidak semua orang bisa melakukannya. Jangan beralih ke budidaya pembesaran dulu. Saya siap mendukung dan membantu. Semoga semakin banyak pemuda yang mau bergabung. Sehingga akan meningkatkan kesejahteraan warga desa,” ujarnya.

Sumber: http://www.cendananews.com/2017/05/dibanding-pembesaran-usaha-pembenihan.html

Admin1 MCN

. Follow Admin1 MCN on : Facebook, Google+, Twitter, linkedin

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)