May 102017
 

YOGYAKARTA — Sebagai salah satu dari 14 dusun di desa Argomulyo Sedayu Bantul, dusun Watu memiliki potensi ekonomi sekaligus potensi wisata yang menjanjikan. Salah satunya adalah usaha pembuatan jamu tradisional. Melalui kelompok wanita tani Jati Husada Mulya, mereka mengembangkan olahan jamu tradisional dengan pemanfaatan teknologi inovasi hingga menjadi produk unggulan.

Titiek Soeharto ikut mencoba membuat jamu

Dusun Watu yang berpenduduk sekitar 1.151 jiwa ini, sejak lama memang dikenal sebagai desa sentra penghasil jamu tradisional di kecamatan Sedayu. Tak sedikit ibu-ibu di dusun ini mencari penghasilan tambahan dengan memproduksi dan menjual jamu olahan.

Selama ini, mereka menjalankan usahanya itu secara konvensional dan sendiri-sendiri. Namun sejak menggabungkan diri dalam kelompok wanita tani, Jati Husada Mulya, sekitar tahun 2012, usaha mereka berkembang pesat menjadi lebih maju dan modern.

Ketua Kelompok Jati Husada Mulya, Wagiyanti mengatakan, pendirian kelompok ibu-ibu pembuat jamu ini memang bertujuan untuk membangun dan menumbuhkembangkan usaha jamu tradisional yang dimiliki warga. Selain rutin memberikan pendampingan, mereka juga aktif dalam menjalin kemitraan dengan sejumlah instansi baik itu pemerintah maupun swasta. Baik itu secara perorangan maupun kelompok.

“Kita telah menjalin kerjasama dengan sejumlah instansi untuk mengembangkan usaha produk jamu tradisional ini. Mulai dari Pertamina, Disnakertrans, Dinas Kesehatan, BPOM, hingga sejumlah perguruan tinggi,” ujarnya saat menerima kunjungan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto SE, belum lama ini.

Memproduksi berbagi macam jamu tradisional seperti beras kencur, temu lawak, kunir asem, Kelompok Jati Husada Mulya yang beranggotakan 30 orang anggota ini telah memiliki rumah produksi modern dengan peralatan memadai. Tak sekedar membuat produk olahan jamu dalam bentuk cair, mereka juga telah mengembangkan produk jamu dalam bentuk saset atau kemasan instan yang lebih praktis dan modern.

“Dalam sehari kita dapat menghabiskan hingga 30 kilogram bahan baku seperti kencur, hingga kunir. Bahan ini hingga saat ini masih kita ambil dadi pasar. Untuk penjualan mayoritas itu melalui pesanan. Namun ada juga yang dititipkan di warung-warung ataupun toko,” jelasnya.

Foto bersama

Titiek Soeharto yang datang langsung untuk meninjau rumah produksi jamu tradisional kelompol Jati Mulya Husada, mengaku sangat mengapresiasi upaya warga dalam mengangkat dan memaksimalkan potensi dusunnya. Selain dapat meningkatkan kesejahteraan warga, pengembangan usaha pembuatan jamu tradisional ini juga sangat positif dalam mendukung sektor pariwisata.

“Sangat bagus. Karena melalui usaha pembuatan jamu tradisional ini warga khusunya ibu-ibu bisa mendapat penghasilan tambahan. Saya harap bisa dikembangkan lagi, untuk mendukung sektor pariwisata. Semoga upaya yang dilakukan ibu-ibu disini bisa dicontoh oleh warga di dusun-dusun lainnya,” ujarnya.

 

Sumber: http://www.cendananews.com/2017/05/angkat-potensi-daerah-ibu-ibu-dusun.html

Admin1 MCN

. Follow Admin1 MCN on : Facebook, Google+, Twitter, linkedin

  One Response to “Angkat Potensi Daerah, Ibu-ibu Dusun Watu Kembangkan Usaha Jamu Tradisional”

  1. Ibu titiek saya mau berterima kasih kpd keluarga cendana karna saya dibesarkan dan bisa sekolah karna keluarga cendana,karena kakek,ibu dan bu’de sya kerja di kediaman eyang harto…by Faksi from perum Bermis…

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)